Gunungkidul, 20 Juni 2026 - Universitas Gunung Kidul menyelenggarakan Seminar dan Workshop Konselor Sebaya sebagai upaya memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai pencegahan kekerasan serta pentingnya ruang aman di lingkungan perguruan tinggi. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber yaitu Ibu Rosalia Widhiastuti Sri Lestari, S.Sos., M.Si dan Ibu Tri Wahyu Ariningsih, S.Pd yang menekankan bahwa kampus harus menjadi tempat yang aman, inklusif, dan responsif terhadap berbagai bentuk kekerasan, termasuk kekerasan verbal, seksual, maupun bentuk perundungan yang kerap dinormalisasi.

Dalam pemaparannya, Ibu Rosalia juga menegaskan pentingnya keberadaan SATGAS PPKPT sebagai garda depan dalam menerima laporan dan menangani kasus yang terjadi di lingkungan kampus. . Peserta juga diajak memahami bahwa kekerasan tidak selalu hadir dalam bentuk fisik, tetapi dapat muncul melalui candaan seksual, penyebaran foto atau percakapan tanpa izin, hingga tindakan mempermalukan seseorang di depan umum. "Pencegahan harus dilakukan oleh berbagai elemen sivitas kampus. Kita harus melek dan sadar diri, namun tetap menjaga kerahasiaan identitas sebagai bagian dari kode etik perlindungan korban." Ungkap Ibu Rosalia dalam materinya.

Pada sesi berikutnya, narasumber kedua menjelaskan konsep konselor sebaya sebagai remaja atau pelajar yang telah dilatih untuk mendengarkan, mendampingi, dan membantu teman sebaya menghadapi persoalan secara empatik. Peran konselor sebaya tidak hanya sebagai pendengar, tetapi juga sebagai fasilitator solusi dan pendidik sebaya yang menyampaikan informasi objektif mengenai isu kesehatan mental, kesehatan reproduksi, dan persoalan remaja lainnya. Melalui kegiatan ini, UGK berharap mahasiswa tidak hanya memahami cara mencegah kekerasan, tetapi juga mampu menjadi bagian dari sistem dukungan yang sehat, peka, dan bertanggung jawab dalam menciptakan budaya kampus yang aman.




Di tulis oleh: Dimas Tegar Prasetya

Humas, Kerjasama, dan Pemasaran