Universitas Gunung Kidul Prakarsai Gunungkidul Karst International Conference untuk mendorong Keberlanjutan Geopark di Era Digital
Universitas Gunung Kidul Prakarsai Gunungkidul Karst International Conference untuk mendorong Keberlanjutan Geopark di Era Digital
Gunungkidul 4 Desember 2025 - Universitas Gunung Kidul (UGK) resmi menggelar Gunungkidul Karst International Conference (GKIC) 2025. Konferensi ini mengangkat tema “Sustainability and Resilience of Karst Geoparks in the Era of Global Digitalization.” Konferensi yang berlangsung pada Kamis, 4 Desember 2025 berlokasi secara luring di Giri Selo Kondho, Kabupaten Gunungkidul. Dan mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi geopark, hingga pemangku kepentingan untuk membahas tantangan dan peluang masa depan ekosistem karst di tengah percepatan teknologi digital. Konferensi dibuka langsung oleh Rektor Universitas Gunung Kidul Dr. Sugiyanto, S.Sos., M.M., yang menyambut dengan antusias terselenggarakannya acara ini. Rektor menekankan terkait pentingnya peran institusi pendidikan lokal dalam menghubungkan riset dengan kebutuhan konservasi regional. “Melalui GKIC 2025, kami ingin memastikan riset terkait konservasi Geopark dilakukan secara inklusif dan mengedepankan kolaborasi antar berbagai pihak untuk menemukan solusi atas tantangan di era digital ini.” Ujar Dr. Sugiyanto dalam sambutannya.
Sebagai pembicara pembuka, Prof. Dr. Eko Haryono, M.Si. memaparkan analisis komprehensif mengenai bentang alam karst Gunung Sewu. Ia menyoroti kondisi sumber daya air, potensi bahaya geomorfologi, dan pola pemanfaatan wilayah yang terus berkembang. Ia merekomendasikan penataan ruang yang berkelanjutan agar pembangunan di kawasan karst tidak menimbulkan dampak ekologis jangka panjang. Pembicara berikutnya, Prof. Yuanhai Zang menekankan pentingnya keragaman geo, bio, dan budaya dalam membentuk identitas karst geopark serta menjelaskan bagaimana ketahanan dan evolusi geo product dapat memperkuat ekonomi lokal.
Sementara itu Shriprompipul, M.Sc., menjelaskan peran kebijakan nasional Thailand dalam pengelolaan dan perlindungan kawasan gua. Dilanjutkan oleh pembicara terakhir, Belkassem Alkaryani, M.Sc., yang memaparkan karakter geografis Libya yang membentuk potensi geowisatanya. Secara keseluruhan, pemateri menegaskan bahwa geowisata harus dikelola berbasis konservasi. Konferensi ini menegaskan komitmen Universitas Gunung Kidul untuk berperan aktif dalam riset dan konservasi kawasan karst secara berkelanjutan. GKIC 2025 diharapkan mampu membuka pemahaman yang lebih luas mengenai urgensi pengelolaan geopark karst secara terpadu. Hal ini merupakan pondasi pengelolaan kawasan karst yang lebih efektif, berkelanjutan, dan berbasis riset ilmiah.
Di tulis oleh:
Dimas Tegar Prasetya
Humas, Kerjasama, dan Pemasaran
